Kamis, 16 Februari 2012

KISAH RELAWAN ANAK BANGSA

Relawan Anak Bangsa
Jaringan kerja anak jalanan sering kali diartikan sebagai sebuah aktivitas organisasi bagi orang dewasa saja, padahal jejaring kerja anak jalanan hanya lah sebuah wadah bagi banyak orang untuk melakukan sesuatu, yang untuk mereka memiliki manfaat kebersamaan. Jaringan kerja bagi anak jalanan adalah sebuah wadah, di mana anak-anak pinggiran berkumpul dan mengorganisir diri dan sekaligus sebagai wujud nyata anak-anak jalanan beraktualisasi di tengah-tengah masyarakat umum (publik). Jaraingan ini merupakan sebuah kerja komunitas yang terorganisir, yang juga merupakan peluang bagi anak-anak pinggiran belajar berorganisasi dalam konteks pemenuhan hak anak untuk berpartisipasi, karena anak memiliki hak untuk terlibat mengambil keputusan demi kehidupan anak sebagai warga Negara Indonesia.
Jaringan kerja anak jalanan suadah ada di sekitar kawasan Sukoharjo dan sebenarnya sudah ada sebelumnya dan diinisiasi kembali oleh BNK (Badan Narkotika Kabupaten Sukoharjo) Sukoharjo pada tahun 2012 melalui Sekolah Anak Bngsa, di mana anak-anak pinggiran berkumpul dan beraktualisasi diri, dan Komunitas Relawan anak Bnagsa sebagai mitra kerjanya. Setelah itu, aktivitas terkendala dengan masalah dana pembangunan untuk mendirikan sekolahnya. Oleh karena itu, Komunitas Relawan Anak Bangsa (KRAB) berinisiatif pada tahun ini untuk melanjutkannya dan merajut kembali jaringan yang sudah eksis sebelumnya.
Komunitas relawan Anak Bangsa. Awal mula berdirinya komunitas ini karena kita prihatin kepada anak Indonesia yang terlantar  kareana tidak di pedulikan oleh Negara. Komunitas yang berdiri dari sendiri kareana tekat pejuang di dalam memajukan Derajat Anak Indonesia. Pola Ide pikiran KOmunitas ini sebenarnya muncul dari seorang yang bernama Feriyana Lestari Berasal dari kota Solo. Ide ini muncul saat melihat anak bangsa di kota solo dan sekitar masih banyak anak jalanan, sehingga dia membuat Komunitas Relawan Anak Bangsa.
Komunitas Relawan Anak Bangsa (KRAB) dapat di tarik pengertianya adalah perkumpulan pemuda dan pemudi bangsa yang aktif dalam kepedulian kepada anak jalanan, anak putus sekolah dan anak-anak dari keluarga tidak mampu . Komunitas ini pertama didirikan oleh 16 relawan, berikut ini nama relawan pendiri Komunitas Relawan Anak Bangsa tersebut:

1.    Feriyana Lestari (HMP BIOLOGI LOTUS FKIP UMS)
2.    Revan Budi Santoso (HMP BIOLOGI LOTUS FKIP UMS)
3.    Rohmat Yulianto (Teknik Informatika di STMIK SINAR NUSANTARA)
4.    Agus (Karang Taruna Madegondo)
5.    Ardola Rigen Prasetyo Utomo (Pasca Sarjana UNS)
6.    Sayekti Pamungkas (Guru di RA Assalaam Wononorejo)
7.    Uyun Hermawati (Pejaabat di PEMDA SUKOHARJO)
8.    Jack (Staff di INSPEKTORAT KABUPATEN SUKOHARJO)
9.    Danar (Staff di Badan Narkotika Kabupaten Sukoharjo)
Komunitas ini tak sekedar komunitas biasa tetapi komunitas ini mempunyai Visi dan misi sebagai dasar kerja. Visi Misi Komunitas Relawan Anak Bangsa :
1.    Visi
Meningkatkan derajat pendidikan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak jalanan, putus sekolah, anak dari keluarga tidak mampu yang tinggal di Solo dan Sukoharjo
2.    Misi
Sedangkan Misi dari Media Sosial Anak Bangsa adalah untuk memberikan pendidikan gratis kepada anak jalanan, anak putus sekolah, anak-anak dari keluarga tidak mampu, dan memberikan pendidikan yang berkualitas bagi mereka. Dan memberikan solusi bagi mereka semua.
 
“Tentunya misi ini dapat terwujud jika saudara semua ikut membantu dalam mewujudkannya. Karena kita semua tahu bahwa membantu sesama yang membutuhkan adalah suatu perbuatan mulia”
 
Komunitas ini tak semena-mena mendirikannya, selain ituh komunitas ini mempunyai rancangan system kerja. Program kerja KRAB :
1.    Mendirikan sekolah anak bangsa untuk anak jalanan & anak putus sekolah
2.    Mengembangkan potensi minat bakat dari anak bangsa
3.    Pengadaaan bimbingan belajar / LES GRATIS untuk anak dari keluarga tidak mampu
Selain ituh komunitas ini juga mempunyai kantor sekertariatan untuk melaksanakan visi dan misi dari Komunitas Relawan Anak Bnagsa. Sekretariatan KRAB ada 2 yaitu :
1.    Jl.Jendral Sudirman no 3 Sukoharjo, Jawa Tengah (Markas BNK sukoharjo)
2.    Nayu Timur Ngemplak Nusukan, Surakarta, Jawa Tengah
Kondisi Anak jalanan, anak jalanan/anak pingiran adalah anak-anak yang terabaikan haknya dan diabaikan keberadaannya sebagai warga negara oleh pemerintah dan negara, yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keberadaan anak demi masa depan bangsa. Mereka adalah semua anak, yang entah oleh kekuasaan ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan telah direnggut dan diasingkan hak-hak dasarnya sebagai anak. Sebagian dari mereka adalah anak-anak yang sering disebut sebagai anak jalanan, buruh anak di pabrik-pabrik atau di perkebunan atau pengrajin cilik, pengamen, joki “three-in-one”, penyemir sepatu, pengasong dan pengais sampah berusia antara 5 sampai 20 tahun.
Di tengah ketiadaan pengertian untuk anak jalanan, dapat ditemui adanya pengelompokan anak jalanan berdasar hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu anak-anak yang turun ke jalanan dan anak-anak yang ada di jalanan. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu anak-anak dari keluarga yang ada di jalanan.
Pengertian untuk kategori pertama adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.
Kategori kedua adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya.
Kategori ketiga adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.
Kategori keempat adalah anak berusia 5-17 tahun yang rentan bekerja di jalanan, anak yang bekerja dijalana, dan/atau yang bekerja dan hidup dijalanan yang menghabiskan sebagaian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.
 Banyak di antara mereka tidak lagi mempunyai tempat tinggal sama sekali dan harus bernaung di bawah langit lepas. Sebagian dari mereka masih tinggal bersama keluarganya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, seperti tinggal di rumah kardus di antara onggokan sampah di gerobak dagang, di emperan toko, di rumah-rumah bambu dan bedeng-bedeng di pinggir sungai.
Banyak di antara mereka adalah anak-anak korban gusuran, dan anak korban PHK yang tidak pernah jelas dan tidak pernah pasti kehidupannya, entah karena masalah ketiadaan tempat tinggal, pekerjaan orangtua, pranata sosial yang tercerai-berai dan tercerabut atau karena masalah tempat dan lingkungan pendidikan yang tidak pasti atau bahkan tidak ada sama sekali. Memang sebagian dari mereka masih bisa bersekolah, namun banyak juga di antara mereka yang sudah tidak mampu lagi bersentuhan dengan bangku sekolah, bahkan sejak di usianya yang sangat dini.
Di antara semua kemungkinan itu, yang pasti, sebagian besar dari mereka adalah korban kekerasan, baik kekerasan yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat mereka berada (kekerasan oleh orangtua dalam kekerasan rumahtangga, menjadi korban pelampiasan orang dewasa di jalanan, termasuk kekerasan seksual, perkosaan dan sodomi, hingga menjadi korban human trafficking atau perdagangan manusia, dll.), maupun kekerasan sistematik yang berasal dari negara yang pada umumnya cukup terselubung dalam kebijakan-kebijakan publik pemerintah (pemda) yang jelas-jelas tidak melindungi dan tidak berpihak pada mereka.
Setiap harinya berita tentang anak jalanan seolah-olah tidak ada hentinya. Derita dan penyiksaan yang mereka alami sering muncul dalam berita. Anak jalanan di bawah umur kebanyakan diperas, ditindas dan dipaksa untuk bekerja oleh para preman dan hasil kerja yang mereka peroleh dipaksa untuk disetorkan kepada preman tesebut. Anak jalanan harus berjuang ditengah-tengah kota yang kejam untuk mendapatkan sejumlah uang agar mereka bisa bertahan hidup dan tidak kelaparan. Pekerjaan yang mereka kerjakan misalnya menjual rokok, membersihkan bus umum, penjaja koran, atau juga mengamen.
Keuntungan yang mereka dapat tidak seberapa, namun harus mereka lakukan agar dapat tetap hidup di kota metropolis ini. Anak-anak jalanan ini biasanya mangkal di terminal atau di persimpangan-persimpangan jalan. Apa yang mereka lakukan adalah sebenarnya karena faktor ekonomi. Keadaan ekonomi yang memaksa mereka harus bekerja, dan pekerjaan yang bisa mereka lakukan untuk seusia mereka adalah pekerjaan di sektor informal.
Penggusuran yang sering kali dilakukan oleh Satpol PP terhadap anak jalanan ini akan memperparah keadaan. Akan timbul masalah sosial yang lebih besar. Anak-anak yang digusur akan kehilangan mata pencaharian, sedangkan secara ekonomi, mereka harus mencari lapangan usaha yang mampu memenuhi kebutuhannya. Bila lapangan usaha tersebut hilang, maka mereka akan mencari lapangan usaha lain, dan bila ini tidak didapatkan, mereka akan melakukan tindakan apa saja yang penting bagi mereka bisa menghasilkan uang. Hal inilah yang menimbulkan dampak sosial. Sebab apa yang mereka lakukan sudah tidak memperhatikan norma-norma hukum yang berlaku.
Bila ini sudah terjadi tentunya aparat keamanan akan semakin disibukkan kembali. Pencopetan, perampokan, penodongan dan tindak kriminal lainnya akan menjadi suatu tindak pidana baru yang pelakunya adalah anak-anak di bawah umur. Selain itu pemerintak juga akan disibukan dengan aksi-aksi anarkis dari kaum jalannan, sharusnya pemerintah juga meberikan solusi tapi kenyataannya belum sepenuhnya menjurus ke kaum bawah, adahal kaum bawah sangat memerlukan ini.
Komunitas Relawan Anak Bngsa Sedia Berbagi
Dari awalnya, sejak bulan 6 Desember 2012 lalu, berbagai aktivitas pengupayaan membangun sebuah jaringan kerja dan sekolah bagi anak-anak pinggiran, perlahan dan bertahap sudah berlangsung. KRAB (Komunitas Relawan Anak Bangsa) sebagai sebuah komunitas baru yang ingin menjadi sebuah lembaga, dimana ada 3 progam kerja untuk anak jalanan, Bidang minat dan bakat menjadi salah satu program kerjanya. Dorongan dari Badan Narkotika Kabupaten Sukoharjo memfasilitasi kami (Tim Kerja Anak Bangsa) dalam beberapa pertemuan untuk membahas dalam forum terbatas dengan beberapa personil selain itu BNK suga member tempat untuk melaksanakan Visi dan Misi dari KRAB. Tujuannya adalah, agar kita (tim relawan) dapat melakukan proses kerjanya sehingga  dapat melihat adanya ragam motivasi dari pertemuan terbatas di markas tersebut, dalam konteks yang lebih luas tentang anak Jalanan.
Kegiatan Komunitas Relawan Anak Bangsa tersebut berlanjut pada pertemuan-pertemuan rutin internal, yang terus berlangsung dan membuka serta memperkaya kami sebagai sebuah tim kerja untuk melangkah terus secara bertahap demi Anak Bangsa Indonesia. Dalam perjalanan, yang harus diakui menelan banyak waktu dan energy setiap relawan, kami sebagai relawan terus melihat adanya ragam kemungkinan dan cara untuk melakukannya dan memulai dengan program kerja yang sedah terorganisasi manajemen KRAB. Untuk mengaatasi anak jalanan yang semakin banyak ini KRAB membuat 3 koordinator bidang  yang mempunyai tugas kerja sendiri yaitu:
1.    Koordinator Bidang advokasi,kesejahteraan dan kemitraan
2.    Koordinator Bidang pendidikan
3.    Koordinator Bidang pengembangan minat bakat
Setiap koardinator bidang mempunyai tugas sendiri-sendiri. Koordinator bidang advokasi kesejahteraan dan kemitraan mempunyai tugas yaitu membuat kesejahteraan di dalam komunitas dengan cara kemitraan antar donatur yang memberi, selain itu koordinator bidang ini mencakup tentang jaringan kerja anak jalanan dan bidang ini bekerja sama dengan KPKS (Komunitas Penjual Koran Sukoharjo), BNK (Badan Narkotika Kabupaten) Sukoharjo, Komunitas Slanker, Karangtaruna karang wuni dan BinMas Polres untuk memberi penyuluhan tentan kerja di setiap bidangnya, contoh KPK member peluang untuk loper Koran, BinMas Polres meberi modal pelatihan sebagai Pembina pramuka di setiap sekolah. Tak lupa komunitas ini juga mempunyai penasiahat yang bekerja sebagai pisikolog sehingga anak jalanan dapat menerima motivasi dan rehabilitasi slain ituh KRAB juga bekerja sama dengan hipnoterapy solo yaitu Mas Arnold.
Koordinator Bidang pendidikan bertugas member penyuluhan pendidikan pada kaum anak jalanan tetapi di bidang ini selain kita beri pembelajaran kita juda dapat ijasah dengan system kejar paket sesuai dengan jenjang pendidikannya. Selain itu kita (tim relawan) juga memberikan BIMBEL gratis kepada kalanagan anak dari keluarga kurang mampu.
Untuk masalah ijasah kita juga bekerjasama denga Dinas Pendidikan Kota Sukohajo dan dibantu oleh Karangtauna Mulyabakti sebagai jalan perantaranya atau pengawan pendidikan. Selain ini kita juga bekerja sama dengan pondok pesantren yang siap menerima anak bangsa yang benar-benar ingin sekolah. Pada koordinator ini kita bekerja samma dengan BIMAS POLRES Sukoharjo sebagai tobak utama untuk perekrutan anak jalanan yang berada di Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya.
Koordinator bidang pengembangan minat dan bakat. Disini kita juga melatih anak jalanan (Anank Bangsa) untuk mengekspresikan bakat dari dirinya melaui seni,usaha dan sebagainya. Selain ituh komunitas kita juga sering mengadakan konser dana amal bagi anak jalanan di berbagai tempat contohnya didepan alun-alun sukoharjo. Disini juga diajarkan kewirausahaan bagi kaum anak jalanan seperti membuat sofvenir, janan oleh, natathacoco dan lain-lain. Tak lupa koordinator di bidang ini juga mempunyai guru sebagai  pembimbing dalam mengexpresikan bakatnya dalm hal apapun.
Dari semua koordinator ini bertujuan untuk menaikan derajat anak jalanan sebagai mana mestinya dengan yang lain, dan memberikan solusi pendidikan dan pekerjaan bagi mereka yang sudah masuk ke dalam kekeluargaan komunitas Relawan Anak Bangsa selainituh kita (tim relawan) mempunyai tujuan memberikan pendidikan gratis kepada anak jalanan, anak putus sekolah, anak-anak dari keluarga tidak mampu, dan memberikan pendidikan yang berkualitas bagi mereka. Serta memberikan solusi bagi Anak Bangsa.
Prinsipnya adalah, bahwa kendala-kendala tersebut menjadi tantangan kami bersama untuk saling bisa memberi masukan dan sekaligus juga terus memperbaikinya. Itulah sebuah proses mencari solusi bersama sebagai sebuah titik temu atau irisan antar program kerja di KRAB sendiri.
Prosesnya dimulai dengan meminta waktu luang dari relawnan dan semua pihak yang membantu untuk mengajak melihat bersama-sama tentang kondisi anak di Indonesia, yang dari waktu ke waktu semakin terpinggirkan pemenuhan haknya. Beragam cara pendampingan anak pun juga menjadi warna tersendiri dalam kancah aktivitas setiap lembaga dan komunitasnya. Tapi kami sebagai sebuah tim Komunitas Relawan Anak Bangsa tidak hanya membatasi jaringan kerja ini dengan lembaga-lembaga pendampingan anak saja, justru lembaga ataupun perorangan yang tidak memiliki komunitas dampingan anak kami ikut sertakan dalam pertemuan rutin, namun mereka memiliki konsep dan juga pengalaman dalam membahas anak pinggiran.  
Sering dikatakan oleh banyak orang, entah itu penulis, pemerhati anak dan siapapun, bahwa anak selalu menjadi korban orang keganansan oleh kaum dewasa, Hal tersebut sangat dapat dirasakan di segala lapisan masyarakat di Indonesia. Hal tersebut terjadi, karena adanya sebab akibat dan persoalan yang rumit yang terus menerus melilit berbagai sendi kehidupan anak jalanan di indonesia, sehingga berdampak pada ketidak pahaman orang dewasa tentang anak itu sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya orang dewasa juga tidak terjebak dengan pengkondisian yang demikian, di mana permasalahan anak menjadi masalah orangtuanya masing-masing.
Tulisan ungkapan dari Rohmat Yulianto ini akan diupayakan bisa menjadi sebuah cerminan dari rangkaian kerja kami dalam Tim kerja Anak Bangsa, yang berprinsip pada ruang anak berkarya Indonesia Jaya. Ruang anak berkarya merupakan sebuah pemenuhan hak anak untuk berpartisipasi, di mana anak dengan jaringan kerjanya membicarakan, memilih dan menyepakati bersama tentang aktivitasnya yang akan mereka organisir bersama. Dan orang dewasa (pendamping dan personallainnya relawan) merupakan fasilitator anak untuk ikut mewujudnyatakan apa yang sedang anak hadapi di tengah proses perjalanan mereka berjejaring. Memfasilitasi, bukan mengintervensi anak. Jaringan anak jalanan ini bersepakat dalam forumnya untuk mengutarakan langsung kepada jaringan kerja lintas lembaganya (lembaga pendampingan dan perorangan), agar tidak meninggalkannya, tapi justru mereka membutuhkan pendampingan dalam proses mewujudnyatakan jaringan kerja mereka. Berbagai kendala dan tantangannya ke depan akan selalu dan tetap menjadi masalah bersama, yang akan dibicarakan dalam forum/komunitas kerja antar anak, sehingga mereka akan memutuskan untuk difasilitasi dari para pendampingnya. Demikian juga dengan jaringan kerja lembaga dan pemerhati anak akan terus memonitoring proses yang sedang berlangsung melalui rambu-rambu, yang biasanya timbul untuk ikut membahas permasalahan yang dihadapi anak secara spontan dalam berorganisasi.
Semoga tulisan ini tentunya tidak berhenti sampai di sini saja, tapi justru baru menjadi tulisan awal bagi Tim Relawan Anak Bangsa. Ke depannya, tentu saya akan menuliskan berbagai pengalaman dan temuan yang saya dapati dari proses kerja ini. semoga semua orang, setelah membaca ini bisa peduli terhadap Anak Bangsa (anak jalanan, anak putus sekolah dan lain-lain) di Indonesia. Yang begitu tertindas dengan kemajuan jaman moderenisasi ini.

by: rohmat yulianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar