Jaringan
kerja anak jalanan sering kali diartikan sebagai sebuah aktivitas organisasi
bagi orang dewasa saja, padahal jejaring kerja anak jalanan hanya lah sebuah
wadah bagi banyak orang untuk melakukan sesuatu, yang untuk mereka memiliki
manfaat kebersamaan. Jaringan kerja bagi anak jalanan adalah sebuah wadah, di
mana anak-anak pinggiran berkumpul dan mengorganisir diri dan sekaligus sebagai
wujud nyata anak-anak jalanan beraktualisasi di tengah-tengah masyarakat umum
(publik). Jaraingan ini merupakan sebuah kerja komunitas yang terorganisir,
yang juga merupakan peluang bagi anak-anak pinggiran belajar berorganisasi
dalam konteks pemenuhan hak anak untuk berpartisipasi, karena anak memiliki hak
untuk terlibat mengambil keputusan demi kehidupan anak sebagai warga Negara
Indonesia.
Jaringan
kerja anak jalanan suadah ada di sekitar kawasan Sukoharjo dan sebenarnya sudah
ada sebelumnya dan diinisiasi kembali oleh BNK (Badan Narkotika Kabupaten
Sukoharjo) Sukoharjo pada tahun 2012 melalui Sekolah Anak Bngsa, di mana
anak-anak pinggiran berkumpul dan beraktualisasi diri, dan Komunitas Relawan
anak Bnagsa sebagai mitra kerjanya. Setelah itu, aktivitas terkendala dengan
masalah dana pembangunan untuk mendirikan sekolahnya. Oleh karena itu,
Komunitas Relawan Anak Bangsa (KRAB) berinisiatif pada tahun ini untuk
melanjutkannya dan merajut kembali jaringan yang sudah eksis sebelumnya.
Komunitas relawan Anak Bangsa. Awal mula berdirinya komunitas ini karena kita
prihatin kepada anak Indonesia yang terlantar
kareana tidak di pedulikan oleh Negara. Komunitas yang berdiri dari
sendiri kareana tekat pejuang di dalam memajukan Derajat Anak Indonesia. Pola
Ide pikiran KOmunitas ini sebenarnya muncul dari seorang yang bernama Feriyana
Lestari Berasal dari kota Solo. Ide ini muncul saat melihat anak bangsa di kota
solo dan sekitar masih banyak anak jalanan, sehingga dia membuat Komunitas
Relawan Anak Bangsa.
Komunitas Relawan Anak Bangsa (KRAB) dapat
di tarik pengertianya adalah perkumpulan pemuda dan pemudi bangsa yang aktif
dalam kepedulian kepada anak jalanan, anak putus sekolah dan anak-anak dari
keluarga tidak mampu . Komunitas ini pertama didirikan oleh 16 relawan, berikut
ini nama relawan pendiri Komunitas Relawan Anak Bangsa tersebut:
1.
Feriyana
Lestari (HMP BIOLOGI LOTUS FKIP UMS)
2.
Revan Budi Santoso (HMP BIOLOGI LOTUS FKIP
UMS)
3.
Rohmat Yulianto (Teknik Informatika di STMIK
SINAR NUSANTARA)
4.
Agus (Karang Taruna Madegondo)
5.
Ardola Rigen Prasetyo Utomo (Pasca Sarjana
UNS)
6.
Sayekti Pamungkas (Guru di RA Assalaam Wononorejo)
7.
Uyun Hermawati (Pejaabat di PEMDA SUKOHARJO)
8.
Jack (Staff di INSPEKTORAT KABUPATEN
SUKOHARJO)
9.
Danar (Staff di Badan Narkotika Kabupaten
Sukoharjo)
Komunitas ini tak sekedar komunitas biasa tetapi komunitas ini mempunyai Visi dan misi sebagai dasar kerja.
1.
2.
Komunitas ini tak semena-mena mendirikannya, selain ituh komunitas ini
mempunyai rancangan system kerja. Program kerja KRAB :
1.
Mendirikan sekolah anak bangsa untuk anak jalanan & anak putus
sekolah
2.
Mengembangkan potensi minat bakat dari anak bangsa
3.
Pengadaaan bimbingan belajar / LES GRATIS untuk anak
dari keluarga tidak mampu
Selain ituh komunitas ini juga mempunyai kantor sekertariatan untuk
melaksanakan visi dan misi dari Komunitas Relawan Anak Bnagsa. Sekretariatan
KRAB ada 2 yaitu :
1.
Jl.Jendral Sudirman no 3 Sukoharjo, Jawa
Tengah (Markas BNK sukoharjo)
2. Nayu Timur
Ngemplak Nusukan, Surakarta,
Jawa Tengah
Kondisi
Anak jalanan, anak jalanan/anak pingiran adalah anak-anak yang
terabaikan haknya dan diabaikan keberadaannya sebagai warga negara oleh
pemerintah dan negara, yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keberadaan
anak demi masa depan bangsa. Mereka adalah semua anak, yang entah oleh
kekuasaan ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan telah direnggut dan
diasingkan hak-hak dasarnya sebagai anak. Sebagian dari mereka adalah anak-anak
yang sering disebut sebagai anak jalanan, buruh anak di pabrik-pabrik atau di
perkebunan atau pengrajin cilik, pengamen, joki “three-in-one”, penyemir
sepatu, pengasong dan pengais sampah berusia antara 5 sampai 20 tahun.
Di tengah ketiadaan pengertian untuk anak jalanan, dapat
ditemui adanya pengelompokan anak jalanan berdasar hubungan mereka dengan
keluarga. Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu anak-anak yang turun ke jalanan dan anak-anak yang ada di jalanan. Namun
pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu anak-anak dari keluarga yang ada di jalanan.
Pengertian untuk kategori pertama adalah anak-anak yang
mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan
keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak
yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari,
dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun
masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala
ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.
Kategori kedua adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh
atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia
memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya.
Kategori ketiga adalah anak-anak yang menghabiskan
seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau
tinggalnya juga di jalanan.
Kategori keempat adalah anak berusia 5-17 tahun yang
rentan bekerja di jalanan, anak yang bekerja dijalana, dan/atau yang bekerja
dan hidup dijalanan yang menghabiskan sebagaian besar waktunya untuk melakukan
kegiatan hidup sehari-hari.
Banyak di antara mereka tidak lagi mempunyai
tempat tinggal sama sekali dan harus bernaung di bawah langit lepas. Sebagian
dari mereka masih tinggal bersama keluarganya dalam kondisi yang sangat
memprihatinkan, seperti tinggal di rumah kardus di antara onggokan sampah di gerobak
dagang, di emperan toko, di rumah-rumah bambu dan bedeng-bedeng di pinggir sungai.
Banyak di antara mereka adalah
anak-anak korban gusuran, dan anak korban PHK yang tidak pernah jelas dan tidak
pernah pasti kehidupannya, entah karena masalah ketiadaan tempat tinggal,
pekerjaan orangtua, pranata sosial yang tercerai-berai dan tercerabut atau
karena masalah tempat dan lingkungan pendidikan yang tidak pasti atau bahkan
tidak ada sama sekali. Memang sebagian dari mereka masih bisa bersekolah, namun
banyak juga di antara mereka yang sudah tidak mampu lagi bersentuhan dengan
bangku sekolah, bahkan sejak di usianya yang sangat dini.
Di antara semua kemungkinan itu,
yang pasti, sebagian besar dari mereka adalah korban kekerasan, baik kekerasan
yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat mereka
berada (kekerasan oleh orangtua dalam kekerasan rumahtangga, menjadi korban
pelampiasan orang dewasa di jalanan, termasuk kekerasan seksual, perkosaan dan
sodomi, hingga menjadi korban human trafficking atau perdagangan manusia,
dll.), maupun kekerasan sistematik yang berasal dari negara yang pada umumnya
cukup terselubung dalam kebijakan-kebijakan publik pemerintah (pemda) yang
jelas-jelas tidak melindungi dan tidak berpihak pada mereka.
Setiap harinya
berita tentang anak jalanan seolah-olah tidak ada hentinya. Derita dan
penyiksaan yang mereka alami sering muncul dalam berita. Anak jalanan di bawah
umur kebanyakan diperas, ditindas dan dipaksa untuk bekerja oleh para preman
dan hasil kerja yang mereka peroleh dipaksa untuk disetorkan kepada preman
tesebut. Anak jalanan harus berjuang ditengah-tengah kota yang kejam untuk
mendapatkan sejumlah uang agar mereka bisa bertahan hidup dan tidak kelaparan.
Pekerjaan yang mereka kerjakan misalnya menjual rokok, membersihkan bus umum,
penjaja koran, atau juga mengamen.
Keuntungan
yang mereka dapat tidak seberapa, namun harus mereka lakukan agar dapat tetap
hidup di kota metropolis ini. Anak-anak jalanan ini biasanya mangkal di
terminal atau di persimpangan-persimpangan jalan. Apa yang mereka lakukan
adalah sebenarnya karena faktor ekonomi. Keadaan ekonomi yang memaksa mereka
harus bekerja, dan pekerjaan yang bisa mereka lakukan untuk seusia mereka
adalah pekerjaan di sektor informal.
Penggusuran
yang sering kali dilakukan oleh Satpol PP terhadap anak jalanan ini akan
memperparah keadaan. Akan timbul masalah sosial yang lebih besar. Anak-anak
yang digusur akan kehilangan mata pencaharian, sedangkan secara ekonomi, mereka
harus mencari lapangan usaha yang mampu memenuhi kebutuhannya. Bila lapangan usaha tersebut hilang, maka mereka akan mencari
lapangan usaha lain, dan bila ini tidak didapatkan, mereka akan melakukan
tindakan apa saja yang penting bagi mereka bisa menghasilkan uang. Hal inilah
yang menimbulkan dampak sosial. Sebab apa yang mereka lakukan sudah tidak
memperhatikan norma-norma hukum yang berlaku.
Bila ini
sudah terjadi tentunya aparat keamanan akan semakin disibukkan kembali.
Pencopetan, perampokan, penodongan dan tindak kriminal lainnya akan menjadi
suatu tindak pidana baru yang pelakunya adalah anak-anak di bawah umur. Selain
itu pemerintak juga akan disibukan dengan aksi-aksi anarkis dari kaum jalannan,
sharusnya pemerintah juga meberikan solusi tapi kenyataannya belum sepenuhnya menjurus
ke kaum bawah, adahal kaum bawah sangat memerlukan ini.
Komunitas Relawan Anak Bngsa Sedia Berbagi
Dari awalnya, sejak bulan 6
Desember 2012 lalu, berbagai aktivitas pengupayaan membangun sebuah jaringan
kerja dan sekolah bagi anak-anak pinggiran, perlahan dan bertahap sudah
berlangsung. KRAB (Komunitas Relawan Anak Bangsa) sebagai sebuah komunitas baru
yang ingin menjadi sebuah lembaga, dimana ada 3 progam kerja untuk anak
jalanan, Bidang minat dan bakat menjadi salah satu program kerjanya. Dorongan
dari Badan Narkotika Kabupaten Sukoharjo memfasilitasi kami (Tim Kerja Anak
Bangsa) dalam beberapa pertemuan untuk membahas dalam forum terbatas dengan
beberapa personil selain itu BNK suga member tempat untuk melaksanakan Visi dan
Misi dari KRAB. Tujuannya adalah, agar kita (tim relawan) dapat melakukan
proses kerjanya sehingga dapat melihat
adanya ragam motivasi dari pertemuan terbatas di markas tersebut, dalam konteks
yang lebih luas tentang anak Jalanan.
Kegiatan Komunitas Relawan Anak
Bangsa tersebut berlanjut pada pertemuan-pertemuan rutin internal, yang terus
berlangsung dan membuka serta memperkaya kami sebagai sebuah tim kerja untuk
melangkah terus secara bertahap demi Anak Bangsa Indonesia. Dalam perjalanan,
yang harus diakui menelan banyak waktu dan energy setiap relawan, kami sebagai relawan
terus melihat adanya ragam kemungkinan dan cara untuk melakukannya dan memulai
dengan program kerja yang sedah terorganisasi manajemen KRAB. Untuk mengaatasi
anak jalanan yang semakin banyak ini KRAB membuat 3 koordinator bidang yang mempunyai tugas kerja sendiri yaitu:
1.
Koordinator Bidang
advokasi,kesejahteraan dan kemitraan
2.
Koordinator
Bidang pendidikan
3.
Koordinator Bidang
pengembangan minat bakat
Setiap koardinator bidang
mempunyai tugas sendiri-sendiri. Koordinator bidang advokasi kesejahteraan dan
kemitraan mempunyai tugas yaitu membuat kesejahteraan di dalam komunitas dengan
cara kemitraan antar donatur yang memberi, selain itu koordinator bidang ini
mencakup tentang jaringan kerja anak jalanan dan bidang ini bekerja sama dengan
KPKS (Komunitas Penjual Koran Sukoharjo), BNK (Badan Narkotika Kabupaten)
Sukoharjo, Komunitas Slanker, Karangtaruna karang wuni dan BinMas Polres untuk
memberi penyuluhan tentan kerja di setiap bidangnya, contoh KPK member peluang
untuk loper Koran, BinMas Polres meberi modal pelatihan sebagai Pembina pramuka
di setiap sekolah. Tak lupa komunitas ini juga mempunyai penasiahat yang
bekerja sebagai pisikolog sehingga anak jalanan dapat menerima motivasi dan
rehabilitasi slain ituh KRAB juga bekerja sama dengan hipnoterapy solo yaitu
Mas Arnold.
Koordinator Bidang pendidikan
bertugas member penyuluhan pendidikan pada kaum anak jalanan tetapi di bidang
ini selain kita beri pembelajaran kita juda dapat ijasah dengan system kejar
paket sesuai dengan jenjang pendidikannya. Selain itu kita (tim relawan) juga
memberikan BIMBEL gratis kepada kalanagan anak dari keluarga kurang mampu.
Untuk masalah ijasah kita juga
bekerjasama denga Dinas Pendidikan Kota Sukohajo dan dibantu oleh Karangtauna
Mulyabakti sebagai jalan perantaranya atau pengawan pendidikan. Selain ini kita
juga bekerja sama dengan pondok pesantren yang siap menerima anak bangsa yang
benar-benar ingin sekolah. Pada koordinator ini kita bekerja samma dengan BIMAS
POLRES Sukoharjo sebagai tobak utama untuk perekrutan anak jalanan yang berada
di Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya.
Koordinator bidang pengembangan
minat dan bakat. Disini kita juga melatih anak jalanan (Anank Bangsa) untuk
mengekspresikan bakat dari dirinya melaui seni,usaha dan sebagainya. Selain
ituh komunitas kita juga sering mengadakan konser dana amal bagi anak jalanan
di berbagai tempat contohnya didepan alun-alun sukoharjo. Disini juga diajarkan
kewirausahaan bagi kaum anak jalanan seperti membuat sofvenir, janan oleh,
natathacoco dan lain-lain. Tak lupa koordinator di bidang ini juga mempunyai
guru sebagai pembimbing dalam
mengexpresikan bakatnya dalm hal apapun.
Dari semua koordinator ini bertujuan untuk menaikan derajat anak jalanan sebagai mana mestinya dengan yang lain, dan memberikan solusi pendidikan dan pekerjaan bagi mereka yang sudah masuk ke dalam kekeluargaan komunitas Relawan Anak Bangsa selainituh kita
Prinsipnya adalah, bahwa
kendala-kendala tersebut menjadi tantangan kami bersama untuk saling bisa
memberi masukan dan sekaligus juga terus memperbaikinya. Itulah sebuah proses
mencari solusi bersama sebagai sebuah titik temu atau irisan antar program
kerja di KRAB sendiri.
Prosesnya dimulai dengan meminta
waktu luang dari relawnan dan semua pihak yang membantu untuk mengajak melihat
bersama-sama tentang kondisi anak di Indonesia, yang dari waktu ke waktu
semakin terpinggirkan pemenuhan haknya. Beragam cara pendampingan anak pun juga
menjadi warna tersendiri dalam kancah aktivitas setiap lembaga dan
komunitasnya. Tapi kami sebagai sebuah tim Komunitas Relawan Anak Bangsa tidak
hanya membatasi jaringan kerja ini dengan lembaga-lembaga pendampingan anak
saja, justru lembaga ataupun perorangan yang tidak memiliki komunitas dampingan
anak kami ikut sertakan dalam pertemuan rutin, namun mereka memiliki konsep dan
juga pengalaman dalam membahas anak pinggiran.
Sering dikatakan oleh banyak
orang, entah itu penulis, pemerhati anak dan siapapun, bahwa anak selalu
menjadi korban orang keganansan oleh kaum dewasa, Hal tersebut sangat dapat
dirasakan di segala lapisan masyarakat di Indonesia. Hal tersebut terjadi,
karena adanya sebab akibat dan persoalan yang rumit yang terus menerus melilit
berbagai sendi kehidupan anak jalanan di indonesia, sehingga berdampak pada
ketidak pahaman orang dewasa tentang anak itu sendiri. Oleh karena itu,
sebaiknya orang dewasa juga tidak terjebak dengan pengkondisian yang demikian,
di mana permasalahan anak menjadi masalah orangtuanya masing-masing.
Tulisan ungkapan dari Rohmat Yulianto ini akan diupayakan
bisa menjadi sebuah cerminan dari rangkaian kerja kami dalam Tim kerja Anak
Bangsa, yang berprinsip pada ruang anak berkarya Indonesia Jaya. Ruang anak
berkarya merupakan sebuah pemenuhan hak anak untuk berpartisipasi, di mana anak
dengan jaringan kerjanya membicarakan, memilih dan menyepakati bersama tentang
aktivitasnya yang akan mereka organisir bersama. Dan orang dewasa (pendamping
dan personallainnya relawan) merupakan fasilitator anak untuk ikut
mewujudnyatakan apa yang sedang anak hadapi di tengah proses perjalanan mereka
berjejaring. Memfasilitasi, bukan mengintervensi anak. Jaringan anak jalanan
ini bersepakat dalam forumnya untuk mengutarakan langsung kepada jaringan kerja
lintas lembaganya (lembaga pendampingan dan perorangan), agar tidak
meninggalkannya, tapi justru mereka membutuhkan pendampingan dalam proses
mewujudnyatakan jaringan kerja mereka. Berbagai kendala dan tantangannya ke
depan akan selalu dan tetap menjadi masalah bersama, yang akan dibicarakan
dalam forum/komunitas kerja antar anak, sehingga mereka akan memutuskan untuk
difasilitasi dari para pendampingnya. Demikian juga dengan jaringan kerja
lembaga dan pemerhati anak akan terus memonitoring proses yang sedang
berlangsung melalui rambu-rambu, yang biasanya timbul untuk ikut membahas
permasalahan yang dihadapi anak secara spontan dalam berorganisasi.
Semoga tulisan ini tentunya tidak
berhenti sampai di sini saja, tapi justru baru menjadi tulisan awal bagi Tim
Relawan Anak Bangsa. Ke depannya, tentu saya akan menuliskan berbagai
pengalaman dan temuan yang saya dapati dari proses kerja ini. semoga
semua orang, setelah membaca ini bisa peduli terhadap Anak Bangsa (anak
jalanan, anak putus sekolah dan lain-lain) di Indonesia. Yang begitu tertindas
dengan kemajuan jaman moderenisasi ini.
by: rohmat yulianto


Tidak ada komentar:
Posting Komentar